Selasa, 17 Mei 2016

Gunung Gamalama, antara Mitos dan Keindahan



Gunung Gamalama adalah sebuah gunung stratovolcano kerucut yang merupakan keseluruhan Pulau Ternate, Kepulauan Maluku, Indonesia. Pulau ini ada di pesisir barat Pulau Halmahera yang ada di bagian utara Kepulauan Maluku. Selama berabad-abad, Ternate adalah pusat benteng Portugis dan VOC Belanda untuk perdagangan rempah-rempah, yang telah mencatat aktivitas volkanik Gamalama. Gunung Gamalama mempunyai ketinggian 1.715 meter di atas permukaan laut. Gunung Gamalama ditutupi Hutan Montane pada ketinggian 1.200 - 1.500 m dan Hutan Ericaceous pada ketinggian di atas 1.500 m.
Di dalam masyarakat Ternate sendiri, terdapat sebuah ritual mengelilingi Gunung Gamalama. Dalam ritual bernama Kololi Kie ini, masyarakat mengelilingi Gunung Gamalama, seraya memanjatkan doa untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan rakyat Ternate. Selain itu, Kololi Kie juga merupakan upacara penghormatan terhadap para leluhur Ternate. Kololi Kie sendiri, diadakan sekali dalam setahun, setiap bulan April.
Oleh masyarakat setempat, Gunung Gamalama dipercaya memiliki banyak nilai-nilai keramat. Tak heran jika banyak mitos yang beredar, dan semakin memperkuat kekeramatan gunung ini. Semisal, masyarakat setempat selalu menyarankan pada sebuah tim yang berencana mendaki Gunung Gamalama agar memiliki jumlah anggota yang genap. Sebelum mendaki pun, sebisa mungkin untuk berdoa, agar tidak mengalami halangan dalam perjalanan.
Meski terkesan berbahaya, namun Gunung Gamalama menyimpan pesona kecantikan yang luar biasa. Maka, tak heran jika banyak para penjelajah alam yang sangat tertarik untuk mendaki gunung ini. Hamparan kebun cengkeh dan pala, akan menemani para pendaki selama perjalanan menuju puncak. Begitu sampai di puncak gunung, para pendaki dapat melihat landscape Pulau Ternate. Tak hanya itu, beberapa pulau lainnya, seperti Pulau Tidore, Pulau Halmahera, dan Pulau Maitara, dapat terlihat dari sini.
Selain pemandangan yang mempesona, para pendaki juga akan menemui tempat-tempat unik di gunung tersebut. Di antaranya adalah mata air dalam lekukan batu seluas loyang besar, yang oleh masyarakat setempat disebut dengan mata air Abdas. Konon, mata air ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Maka, tak heran jika masyarakat Ternate begitu mengkeramatkan mata air ini. Sehingga, ada aturan tertentu untuk mengambil air dari mata air Abdas, yakni tidak boleh berebutan, dan tiap-tiap orang hanya diperbolehkan mengambil satu botol.
Selain mata air Abdas, tempat menarik lainnya adalah kuburan leluhur masyarakat Ternate, yang sudah berumur ratusan tahun. Belum diketahui, kenapa kuburan tersebut bisa ada di puncak Gunung Gamalama. Namun yang pasti, masyarakat Ternate sangat mengeramatkan kuburan tersebut. Banyak masyarakat Ternate yang mendaki Gunung Gamalama untuk berziarah di makam leluhur ini.
Gunung Gamalama terletak di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Jika ingin melakukan pendakian, jalur pendakian dapat diakses dari beberapa desa di sekitarnya, seperti Desa Moya, Desa Malikurubu, dan Desa Akehuda. Namun, dari ketiga desa ini, jika ingin jalur pendakian termudah dapat melalui Desa Mayo.
Kota Ternate dapat dicapai dengan menggunakan pesawat maupun kapal laut. Jika ingin menggunakan pesawat, beberapa maskapai ada yang memiliki rute Jakarta—Manado—Ternate, dan Jakarta—Makassar—Ternate. Jika ingin menggunakan kapal laut, PT. Pelni memiliki rute yang menghampiri Ternate sekali dalam seminggu. Dari pusat Kota Ternate, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke desa Moya dengan menggunakan angkutan umum. Perjalanan ini, memakan waktu sekitar 30 menit.
Untuk mendaki Gunung Gamalama pengunjung tidak dikenakan biaya apapun.Dalam rute pendakian menuju puncak Gunung Gamalama, para pendaki akan menjupai tiga pos yang kerap digunakan sebagai tempat beristirahat. Di Desa Moya, hanya ada satu warung kecil. Oleh karena itu, disarankan kepada para pendaki untuk melengkapi perbekalan secukupnya. Selain itu, apabila memerlukan penginapan sebelum atau sesudah pendakian, wisatawan dapat dengan mudah memperolehnya di pusat Kota Ternate



Upacara Kololi Kie Warisan Leluhur Ternate


Pulau Ternate jika dilihat dari aspek topografis, berbentuk bulat kerucut (strato vulkano) yang luasdiagonal pulau kecil ini dari arah utara ke selatan sepanjang 13 km dan dari arah barat ke timur sepanjang 11 km, dengan panjang bibir pantai keliling pulau kurang lebih 55 km dengan bentanganluas seluruh daratan pulau adalah 92,12 km2.
Dengan kondisi geografis demikian, maka sudah pasti bahwa jika kita mengelilingi “gunung Gamalama haruslah dilakukan dengan mengelilingi pulau Ternate tersebut. Terdapat dua jalur untuk mengelilingi pulau kecil ini, yakni melalui jalur laut (kololi kie toma ngolo) dan atau melalui jalur darat (kololi kie toma nyiha). Gunung Gamalama merupakan satu-satunya gunung yang bertengger di pulau tersebut yang hingga saat ini masih merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian saat ini kurang lebih 1.730 m dari permukan laut.
Kololi Kie yaitu sebuah kegiatan ritual masyarakat tradisional untuk mengitari atau mengililingi gunung Gamalama sambil menziarahi beberapa makam keramat yang ada di sekeliling pulau kecil yg memiliki gunung berapi ini.keberadaan gunung selalu dihormati dengan cara melakukan beberapa ritual tertentu. Sebuah gunung dianggap mewakili sosok yang mengagumkan sekaligus mengancam, sehingga diperlukan upacara penghormatan supaya keberadaannya menjamin ketentraman, keamanan, dan keberadaan masyarakat di sekitarnya.


PENGERTIAN & MAKNA FILOSOFI
Secara etimologi, kata “Kololi Kie” berasal dari bahasa asli Ternate yakni gabungan dari dua kata, yaitu ; kata “” yang berarti keliling atau mengintari dan kata “kie” yang berarti gunung, pulau, darat atau juga berarti daratan. Jadi, pengertian kata Kololi Kie secara umum bermakna; kegiatan mengitari atau mengililingi pulau/gunung. Ada istilah lain yang mempunyai arti serupa yang juga populer di masyarakat Ternate terhadap kegiatan kololi kie ini, yaitu “Ron Gunung“.
Ritual kololi kie ini sudah dilakukan oleh masyarakat Ternate sejak ratusan tahun lalu. Ritual adat ini merupakan salah satu dari dua ritual tertua yangdianggap satu paket, yakni ritual “Fere Kie” yaitu kegiatan ritual naik ke puncak gunung Gamalama untuk berziarah. (tentang ini akan dibahas dalam tersendiri sedudah tulisan ini).
Tradisi ritual adat kololi kie ini, jika dilihat dari sisi “route” yang dilalui, maka terdapat dua jalur yang bisa dilalui, yaitu; melalui jalur laut dan melalui jalur darat.
1)       Melalui Jalur Laut, (=Kololi kie toma ngolo).
Kendaraan yang dugunakan pada kegiatan ritual adat kololi kie toma ngolo ini adalahperahu atau kapal ukuran sedang. Saat ini biasanya menggunakan perahu atau kapal bermotor, sedangkan pada jaman dahulu hal itu dilakukan dengan menggunakan perahu tanpa mesin, yakni mendayung dengan tangan.
2)       Melalui Jalur Darat, (=Kololi kie toma nyiha / nyiho).

Kololi kie toma nyiha (sering disebut juga nyiho) biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu; dengan menggunakan kendaraan (mobil atau motor) dan dengan berjalan kaki, tapi yang terakhir ini sudah jarang diklakukan lagi.


Senin, 16 Mei 2016

Rumah Adat Sasadu


Rumah adat Sasadu merupakan rumah adat yang diwariskan oleh leluhur suku Sahu di Pulau Halmahera Barat, Maluku Utara.  Sasadu berasal dari kata Sasa – Sela – Lamo atau besar dan Tatadus – Tadus atau berlindung, sehingga Sasadu memiliki arti berlindung di rumah besar. Rumah adat Sasadu memiliki bentuk yang simpel atau sederhana yaitu berupa rumah panggung yang dibangun menggunakan bahan kayu sebagai pilar atau tiang penyangga yang berasal dari batang pohon sagu, anyaman daun sagu sebagai penutup atap rumah adat dan memiliki dua pijakan tangga terletak di sisi kiri dan kanan.
Pada rumah adat Sasadu terdapat dua ujung atap kayu yang diukir dan memiliki bentuk haluan dan buritan perahu yang terdapat pada kedua ujung atap. Bubungan tersebut melambangkan perahu yang sedang berlayar karena suku Sahu merupakan suku yang suka berlayar mengarungi samudera. Selain itu pada bubungan atapnya digantungkan dua buah bulatan yang dibungkus ijuk. Bulatan itu menggambarkan simbol dua kekuatan supranatural yaitu kekuatan untuk membinasakan dan kekuatan untuk melindungi.
Rumah adat Sasadu tidak memiliki pintu dan sisi-sisinya tidak memiliki dinding penutup. Untuk memasuki rumah adat Sasadu terdapat 6 jalan masuk sekaligus jalan keluar.  Setiap jalan diperuntukkan untuk orang-orang tertentu. Dua jalan masuk dan keluar khusus untuk perempuan, dua jalan khusus untuk lelaki, dua jalan khusus untuk para tamu. 
Rumah adat sasadu mencerminkan watak suku Sahu yang terbuka dan ramah. Bangunan yang tanpa pintu adalah isyarat bahwa siapapun dapat masuk ke dalamnya baik itu masyarakat asli maupun suku pendatang akan diterima dengan tangan terbuka. Ini juga menyiratkan tidak ada paksaan dalam berkomunikasi antarsesama. Semuanya berlangsung secara alami dan sukarela.
Perhatikan juga pada bubungan atapnya yang menjulang tergantung dua buah bulatan yang dibungkus ijuk. Itu merupakan simbol dua kekuatan supranatural yang diyakini suku Sahu. Kekuatan dimaksud adalah satu yang membinasakan dan lainnya sebagai perlindungan. 
Pembangunan rumah adat ini tanpa menggunakan paku tetapi sepenuhnya berbahankan alam dan kearifan lokal. Bangunannya didominasi batang pohon sagu sebagai tiang dan kolom serta daun sagu sebagai pelapis atap. Pohon sagu sendiri mudah didapat di Halmahera dan menjadi makanan pokok. Selain itu, pohon sagu juga dilambangkan sebagai pohon kesejahteraan.
Sasadu bagi masyarakat suku sahu merupakan bentuk penghargaan bagi kaum wanita. Itu karena di dalam ruangannya tersedia dua buah meja, satu meja khusus untuk perempuan di bagian depan dan satu meja lagi bagi laki-laki di bagian belakang. Menempatkan meja perempuan di depan menyiratkan makna bahwa bagi suku Sahu wanita akan didahulukan dan laki-laki senantiasa melindunginya dari belakang.
Rumah adat sasadu memiliki banyak fungsi. Selain sebagai ruang pertemuan dan tempat menerima tamu, juga untuk merayakan pesta adat yang dapat berlangsung hingga tujuh hari tujuh malam. Pesta tersebut biasanya untuk merayakan perkawinan dan kelahiran. Di depan rumah adat inilah biasanya digelar acara makan bersama dengan memainkan tarian adat tradisional. 
Berkunjunglah ke Jailolo dan arahkan langkah Anda dengan semangat untuk bertemu suku Sahu yang ramah. Mereka akan bercerita tentang budaya dan keunikan rumah adat ini. Rumah sasadu yang ditinggali suku sahu dapat Anda jumpai di Desa Gamtala, Kecamatan Sahu, Kabupaten Halmahera Barat. Di sana berjejer rumah adat sasadu pada sebuah lapangan luas.


Istana Kesultanan Ternate


Istana Kesultanan Ternate terletak di dataran pantai di Kampung Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Provinsi Maluku Utara. Letak Istana Kesultanan Ternate tidak jauh dari pusat kota.
Kesultanan Ternate atau juga dikenal dengan Kerajaan Gapi adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Kepulauan Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Pada masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi bagian utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauanFilipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di Pasifik.
Pada masa–masa awal suku Ternate dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut kolano. Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan.Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar kolano dan menggantinya dengan gelar sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.
Setelah sultan sebagai pemimpin tertinggi, ada jabatan jogugu (perdana menteri) dan fala raha sebagai para penasihat. Fala raha atau empat rumah adalah empat klan bangsawan yang menjadi tulang punggung kesultanan sebagai representasi para momole pada masa lalu, masing–masing dikepalai seorang kimalaha. Mereka yaitu Marasaoli, Tomagola, Tomaito dan Tamadi. Pejabat–pejabat tinggi kesultanan umumnya berasal dari klan–klan ini. Bila seorang sultan tak memiliki pewaris maka penerusnya dipilih dari salah satu klan. Selanjutnya ada jabatan – jabatan lain Bobato Nyagimoi se Tufkange (Dewan 18), Sabua Raha, Kapita Lau, Salahakan, Sangaji, dll.
Istana ini dipagari oleh dinding berketinggian lebih dari 3 meter, yang menyerupai benteng. Di lingkungan istana ini juga terdapat komplek pemukiman raja dan keluarganya, dan komplek makam para pendahulu kesultanan. Istana bergaya Eropa yang menghadap ke arah laut ini, berada dalam satu komplek dengan mesjid kesultanan yang didirikan oleh Sultan Hamzah, Sultan Ternate ke-9.
Desain interior istana penuh dengan hiasan emas. Di ruang kamar bagian dalam terdapat peninggalan pakaian dari sulaman benang emas yang mewah, perhiasan-perhiasan dari emas dan kalung raksasa dari emas murni, mahkota, kelad bahu, kelad lengan, giwang, anting-anting, cincin, dan gelang yang hampir kesemuanya terbuat dari emas. Hal ini merupakan indikator bahwa Kesultanan Ternate pernah mengalami masa kejayaan.
Di samping itu, istana megah ini juga menyimpan, merawat dan memamerkan benda-benda pusaka milik kesultanan, seperti senjata (senapan, meriam kecil, peluru-peluru bulat, tombak, parang dan perisai), pakaian besi, pakaian kerajaan, topi-topi perang, alat-alat rumah tangga, dan naskah-naskah kuno (Al-Quran, maklumat, dan surat-surat perjanjian).

Benteng Tolokku, Saksi Sejarah dan Indahnya Pertahanan Ternate



Jika berkunjung ke ternate, jangan lupa untuk datang ke benteng peninggalan sejarah ini. Di benteng ini travellers bisa menikmati indahnya bangunan sejarah yang menjadi saksi pertahanan dan penjajahan di kota Ternate. Selain itu travellers bisa menikmati keindahan laut lepas dari benteng ini.
Benteng Toloko Lokasinya berada di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara, dari pusat kota anda butuh waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor. 
Benteng Tolucco  atau banyak orang yang menyebutnya Tolukko merupakan salah satu peninggalan portugis yang ada di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara yang hingga kini masih berdiri. Dari atas  benteng bisa melihat pemandangan laut dengan latar belakang pulau halmahera, tidore dan maitara.Benteng ini berdiri diatas bukit batuan beku terletak pada 620 cm dpl,  letaknya agak menjorok kelaut, jika memperhatikan model dan denah yang ada kemungkinan benteng ini dibangun disesuaikan dengan kondisi bentuk bukit yang ada. Keunikan dari benteng  ini cendrung memiliki 2 bastion di depan dan 1 dibelakang dan ini menjadi ciri khas Benteng Portugis.
Benteng Hollandia sebutan lain dari benteng ini merupakan  salah satu tempat kunjungan wisata sejarah yang ada di Pulau Ternate, dibangun oleh Bangsa Portugis 1540 yang saat itu menduduki Ternate dan juga sebagai pertahanannya dalam menguasai perdagangan dan keberadaan cengkeh dan rempah - rempah di pulau ini. Meski dibangun oleh Portugis, sempat  diambil alih oleh Belanda pada 1610. Saat itu, Belanda sudah menjadi bangsa yang mendominasi wilayah Maluku, termasuk Ternate.
Tahun 1996 pernah dipugar kembali sampai saat ini benteng masih terlihat kokoh dan terawat meski sudah berusia ratusan tahun. Benteng Tollouo kini sebagai objek wisata cocok dijadikan objek foto bagi anda pecinta fotografi khususnya, anda akan mendapatkan momen foto istimewa disini,

Eksotica de Kalamata


Benteng Kalamata sering disebut benteng Santa Lucia atau juga disebut benteng kayu merah. Benteng ini pertama kali di bangun oleh bangsa Portugis (Pigafeta) pada tahun 1540 untuk menghadapi serangan Spanyol dari Rum, Tidore. Benteng ini kemudian dipugar oleh Belanda pada tahun 1609.
Benteng ini terletak di sebelah selatan pusat kota ternate dan berjarak 3 Km dan dapat dicapai oleh kendaraan darat. kondisi fisik benteng ini sekarang sangat baik karena selesai dipugar tetapi tampaknya nilai keasliannya telah diubah karena ada kesan seperti bangunan baru. 
Disebut Benteng Kayu Merah karena berada kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate Selatan. Awalnya benteng ini bernama Santa Lucia, tetapi kemudian terkenal dengan Benteng Kalamata. Kalamata sendiri berasal dari nama Pengeran Kalamata, yakni adik dari Sultan Ternate Madarsyah.


Tentang Ternate dan Potensinya



A.    Sistem Tata Kota Ternate
1.      Geografis dan Topografis
Secara geografis Kota Ternate terletak antara 20030’ –200 35’ Bujur Timur dan 0047’ –0050’ Lintang Utara dengan batas wilayah sebagai berikut:  Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Maluku Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Halmahera, Sebelah Selatan berbatasan dengan Pulau Makian Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Maluku. Luas seluruh wilayah administrative adalah 132,09 Km2 yang terbagi kedalam tiga kecamatan masing-masing: Kecamatan Ternate Utara seluas: 23, 68 Km2 Kecamatan Ternate Selatan seluas: 31,95 Km2 Kecamatan Pulau Ternate Seluas: 76,46Km2 Disamping itu apabila dilihat dari aspek teritorialnya maka Kota Ternate merupakan gabungan dari beberapa gugus pulau yaitu: Pulau Ternate seluas Pulau Hiri seluas Pulau Mayau seluas : 92, 12 Km2: 6,68 Km2: 8,50 Km2.

2.      Perkembangan penduduk Kota Ternate
Selama lima tahun terakhir mengalami kecenderungan peningkatan khususnya diwilayah Kecamatan Ternate Selatan dan Kecamatan Ternate Utara. Peningkatan ini disebabkan faktor urbanisasi maupun migrasi dari kawasan pulau Halmahera dan regional antara lain dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Ambon bahkan dari Jawa. Meningkatnya arus urbanisasi dan migrasi diakibatkan oleh semakin terbukanya arus transportasi laut yang menghubungkan Kota Ternate dengan hiterlandnya dan beberapa kota lainnya dalam kawasan regional.
Jumlah penduduk pada tahun 1998 dalah 115.609 Jiwa yang tersebar ditiga wilayah kecamatan, masing-masing: Kecamatan Ternate Utara Kecamatan Ternate Selatan Kecamatan Pulau Ternate: 45.139 Jiwa: 52.332 Jiwa: 18. 138 Jiwa Kepadatan rata-rata penduduk Kota Ternate adalah 875 Jiwa/Km2 dimana kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Ternate Selatan yaitu 1.906 Jiwa/Km2, kemudian Kecamatan Ternate Utara 1.637 Jiwa/Km2 dan Pulau Ternate 237 Jiwa/Km2 .

3.      Potensi Ekonomi Ternate
a.       Pertanian. Potensi terbesar disektor pertanian terdapat pada sub sektor perkebunan dan perikanan kemudian sub sektor tanaman pangan/holtikultura dan peternakan. Produksi perkebunan rakyat yang menonjol adalah kelapa, cengkeh dan pala, disamping coklat, casiavera dan komoditas lain dapat dikembangkan vanilla dan lada. Data menunjukan bahwa luas areal potensial perkebunan ± 7.355 Ha, sementara yang sudah manfaatkan/ ditanami adalah ± 3.352 Ha yang terdiri dari : Tanaman Kelapa Tanaman Pala Tanaman Cengkeh Tanaman Coklat Tanaman Casiavera Tanaman Lada/Vanili - 1.352 Ha - 549 Ha - 1.268 Ha 8 Ha 99 Ha 77 Ha.
 Oleh karena asset ekonomi ini merupakan milik rakyat dan pada saat seluruh bangsa diterpa badai krisis ekonomi, justru pada sektor ini tidak tersentuh sama sekali. Bahkan fluktuasi harga mengikuti pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar, karena komonitas tersebut berakses ekpor. Sub sektor perikanan menduduki posisi penting bagi kehidupan masyarakat karena rata-rata pemukiman penduduk adalah berada di pesisir pantai dan sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada usaha ini.
Melihat potensi laut diwilayah Kota Ternate seluas 339.37 Km2 maka kemungkinan pengembangan usaha perikanan akan menjadi salah satu andalan bagi kehidupan ekonomi rakyat. Sub sektor pertanian lain yang perlu dikembangkan Tanaman Palawija dan Holtikultura, satu dan lain karena pemasaran local sangat potensial sejalan dengan pertambahan penduduk Kota Ternate.

b.      Perdagangan dan Industri disamping sebagai Ibukota Ternate sejak lama telah berkembang menjadi Kota Perdagangan, hal ini ditandai dengan semakin tumbuhnya kegiatan usaha berskala menengah dan kecil. Berkembangnya sector ini karena didukung oleh sejumlah fasilitas jasa perdagangan seperti: Pasar Umum Pasar Ikan Pasar Hewan Bank Toko/Kios Koperasi Terminal Hotel/Penginapan Pelabuhan samudera/ Pelabuhan Rakyat/ Pelabuhan Ferry.
Tersedianya berbagai fasilitas jasa perdagangan dan perhubungan tersebut memungkinkan berkembangnya usaha industri walaupun dalam skala menengah dan kecil. Terdapat 4 (empat) unit usaha industri menengah dengan fasilitas PMDN dan industri kecil sebanyak 327 unit.

4.      Strategi Program Pembangunan Ternate Sebagai Kota Perdagangan Dan Wisata

Salah satu factor yang menyebabkan adanya perbedaan laju pertumbuhan antar daerah, desa dan kota adalah di akibatkan adanya perbedaan infra struktur kota dengan pertumbuhan yang tinggi, sementara daerah dengan tingkat pertumbuhan yang relatif rendah.
Kota Ternate memiliki sejumlah fasilitas dan infrs struktur perkotaan yang relatif memadai dibandingkan dengan kota – kota yang berda dikawasan Maluku (selain Ambon) dengan posisi geografis menjadikan Ternate merupakan salah satu “gate” masuk – keluar barang, jasa dan manusia yang berakses local, regional dan internasional. Kondisi ini telah menjadikan Ternate sebagai “ Kota Perdagangan” yang relatif ramai dikawasan Maluku bagian Utara dan akan lebih sinergi jika potensi pariwisata berupa tinggalan budaya dan sejarah dapat dikembangkan secara maksimal.
Strategi Program-Strategi Program Pembangunan Kota Perdagangan dan Wisata diarahkan pada upaya untuk lebih meningkatkan poduktivitas, sehinggga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kota secara keseluruhan. Oleh karena itu dibutuhkan penyediaan lahan perkotaan dn penyiapan infra struktur perdagangan dan pariwisata yang memadai.
Arah dan tujuan dimaksud adalah meliputi :
a.       Mempersiapkan dan menyediakan lahan perkotaan dengan berbagai fasilitas jasa perdagangan dan wisata yang memungkinkan tumbuhnya ekonomi kota.
b.       Meningkatkan infra struktur perkotaan (sarana dan prasarana) sehingga mampu mendorong dan memperlancar arus barang dan jasa serta angkutan manusia.
c.        Memperluas jangkauan pasar produk dalam negeri dan ekspor dengan jalan meningkatkan daya saing produksi melalui peningkatan efesiensi, kualitas dan diversivikasi produk.
d.       Mendorong dan membantu pengembangan industri kecil, koperasi, usaha rumah tangga serta usaha informal melalui pembinaan menejemen, pelatihan dan penyuluhan.
e.       Memacu peran serta aktif masyarakat untuk mendorong perkembangan kepariwisataan yang diarahkan pada Wisata Sejarah, budaya,agro wisata dan maritime.




Secara umum sasaran STRAPO Pembangunan Ternate sebagai Kota Perdagangan dan Wisata adalah :
  1. Tersusunnya skenario pengembangan program kota yang merupakan elaborasi kemampuan, potensi ekonomi dan keuangan kota.
  2.  Mengidentifikasi posisi wilayah perencanaan kota dalam suatu system perekonomian local dan ragional terkait melalui konsep strategi makro.
  3.  Meningkatkan nilai ekonomis bagian-bagian kota (termasuk pulau-pulau) guna mendukung pertumbuhan ekonomi kota secara keseluruhan.
  4. Memanfaatkan dan mengembangkan potensi pariwisata yang merupakan “push and pull factor “ menuju kota yang berbudaya.

Kebijaksanaan Program yang dilakukan guna mewujudkan “ Misi Kota Perdagangan dan Wisata “ tersebut adalah :

  1. Meningkatkan dan memperluas infra struktur perekonomian yang esensial (pasar,terminal dan perluasan dermaga )
  2.  Relokasi pengembangan kawasan perdagangan sesuai kawasan peruntukan lahan perkotaan yangtelah di “adjusted”.
  3.  Peningkatan Pelayanan jasa angkutan udara (penambahan kapasitas dan frekuensi angkutan udara).
  4.  Revitalisasi fungsi kawasan sentral ekonomi bagian Utara, Selatan dan Pulau Ternate.
  5.  Revitalisasi fungsi kawasan sentral kota yang diprioritaskan sebagai kawasan perdagangan utama.
  6.  Mendorong peran investor local, regional, nasional bhkan internasional yang memiliki keterkaitan dengan upaya pemberdayaan masyarakat akibat kerusuhan dengan memanfatkan pengusaha kecil, menengah dan koperasi yang bertumpu pada penguatan fundamental ekonomi rakyat.
  7.  Penelitian, inventarisasi dan pengembangan obyek-obyek wisata dengan melibatkan peran serta dunia usaha swasta.
  8. Memanfatkan secara optimal obyek-obyek wisata yang tersedia melalui peningkatan promosi dan pemasaran secara terencana dan terpadu.
  9.  Meningkatkan mutu menejemen pelayanan jasa kepariwisataan yang profesional melalui pendidikan, pelatihan, pemagangan serta pembinaan dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendukung pelayanan jasa kepariwisataan.